Jumat, 29 Juni 2007

CTAP 1 (Caterpillar Trainer and Assessor Program)

Melanjutkan Rencana training yang sudah disusun sebelumnya, seminggu ini berkumpul di Trakindo Surabaya, para workplace trainer(WPT) yang mendapat giliran (terakhir) untuk training. Untuk tahun ini,sebelumnya sudah ada 2 kelas yang di-run. Kelas ini jadi penting karena bertepatan dengan launching TDP (Tech Dev Program) awal bulan juni lalu.WPT ini yang akan menjadi ujung tombaknya.
Kalo ngomongin trainingnya mungkin terlalu sering dan menjadi ga asyik. Mungkin dari sisi lainnya saja. ada mas Arovah dari Tanjung Adaro (Banjarmasin), Herwina Dewi dari Bandung, Mas Yogi dari Sby,Trinova dr Medan, Pak Syarifuddi wakil makassar, Syuaib ismail dari Soroako, Sukoco dari Sanggata, pak Haji Dharmawan dan Mas Nur dari Batuhijau. sebagian besar dari mereka adalah Expert dibidang alat berat dicabangnya masing-masing. cukup suprise bergabung dengan mereka seminggu ternyata mereka memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman yang mendalam khusus untuk alat berat merk Caterpillar. Buktinya dengan waktu cuma semalam semuanya sudah siap dengan rancangan Modul Training yang hebat.dan siap mempresentasikannya di depan asssessor.

Kamis, 28 Juni 2007

Pendidikan Yang Membebaskan
Pendidikan dalam arti luas merupakan kebutuhan asasi manusia. Itu karena pendidikan tidak bisa lepas dari keseharian kita. Kita menerima pendidikan awal dari orang tua kita, lingkungan kita, dan masyarakat kita. Pendidikan berjalan seiring dengan kemanusiaan dan budaya manusia. Kualitas kemanusiaan dan budaya kita dipengaruhi oleh kualitas pendidikan kita. Dalam hal ini pendidikan dipandang sebagai sarana untuk membebaskan manusia dari persoalan hidupnya : kebodohan dan keterbelakangan.
Hanya saja pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia lebih dipahami sebagai sekadar transfer pengetahuan belaka. Secara sepihak murid menerima informasi sepihak dari guru tanpa adanya kebebasan berkreasi. Guru menyampaikan informasi yang nyaris tidak bisa dibantah dan tidak bisa salah, kurikulum syarat materi yang sangat membebani, dan ditambah lagi murid menjalani pendidikan di sekolahnya dengan syarat tekanan.
Bukankah telah kita ketahui bahwa beban pelajaran sekolah-sekolah kita tidak hanya membebani anak-anak kita bahkan membebani orang tua dengan PR yang bertumpuk-tumpuk? Akibatnya sekolah-sekolah kita tidak lagi membebaskan anak didik dari ketidakberdayaan melainkan justru memasungnya. Dimasa-masa awal usia kanak-kanaknya, anak didik telah kehilangan kegembiraannya. Padahal penelitian terbaru justru mengungkapkan bahwa kecerdasan dan kejeniusan seorang anak justru dibangun lewat kegembiraan, permainan, dan spontanitas. Menghilangkan faktor-faktor ini diyakini akan mematikan potensi-potensi kecerdasan sejak dini.
Sekolah-sekolah seperti ini mengguyuri dan membebani anak didik dengan hapalan teori-teori dan informasi, berusaha untuk belajar sekadar untuk menjawab soal-soal ujian, dan pada ujungnya untuk sekadar lulus dan mempunyai gelar. Dalam lingkungan seperti itu tidak penting benar apakah yang mereka pelajari sesuai dengan realitas disekitarnya. Sekolah-sekolah kita telah terjebak dengan verbalisme. Seorang murid bisa saja hapal suatu rumus tapi tidak pernah tahu apa aplikasinya, mereka juga hapal nama para sastrawan dan karyanya tetapi tidak pernah membaca karya sastra apalagi mengapresiasinya, mereka tahu bagaimana mengkonversi satuan derajat Fahrenheit ke derajat Celcius tapi tidak pernah tahu cara menggunakan thermometer, mereka tahu istilah fotosintesis tapi tak pernah mengamatinya, mereka hapal tanggal-tanggal bersejarah tapi justru gagal belajar dari sejarah, mereka tahu tentang reboisasi tetapi tak pernah sekalipun belajar menanam pohon dan merawatnya. Dengan demikian pendidikan telah tercerabut dari realitasnya, terlepas dari problem riil masyarakat.
Pendidikan yang verbalistik lebih mengedepankan hapalan dan bukannya pemahaman, menyukai formulasi dan bukannya substansi, lebih mengagungkan prestasi belajar dan bukannya tradisi ilmiah. Produk pendidikan verbalistik ini mungkin mampu menghasilkan sarjana tapi mereka tak kunjung mampu menjadi problem solver. Bahkan mungkin menghasilkan doktor tetapi disertasinya menjadi yang pertama dan sekaligus yang terakhir. Dengan demikian produk pendidikan semacam ini hanya menghasilkan status tertentu di masyarakat dan bukannya mentransformasi masyarakat seperti yang diharapkan dari sebuah proses pendidikan.
Kondisi pendidikan kita yang mayoritas seperti ini harus dikembalikan ke proporsi yang sebenarnya dan diletakkan pada filsafat dasar pendidikan : bahwa ia hadir untuk membebaskan manusia dari permasalahan dan kesulitan hidupnya. Kita perlu pendidikan yang membebaskan. Langkah pertama yang bisa ditempuh adalah dengan menghadirkan konsep pendidikan yang menanamkan prinsip belajar untuk belajar. Prinsip ini menjadi relevan dengan tabiat jaman kita dimana segala sesuatu berubah dengan cepat. Apa yang kita ketahui hari ini bisa menjadi usang dalam waktu singkat. Karena itu hapal segala fakta dan serba tahu akan segala sesuatu menjadi tidak penting lagi. Yang terpenting justru bagaimana cara mendapatkan fakta-fakta dan bagaimana belajar sesuatu.
Konsep alternatif ini menekankan bahwa pengetahuan bukannya diperoleh dengan hapalan melainkan didapat dengan “mengalami”. Fakta-fakta diketahui bukan dengan diceritakan melainkan didapatkan. Teori-teori dan rumus-rumus tidak melulu disajikan tapi diiringi dengan bukti-bukti empirik dan juga bagaimana teori dan rumus itu bekerja. Konsep ini mengajarkan ketrampilan yang sangat penting : bagaimana caranya mempelajari sesuatu, dengan demikian murid disiapkan untuk suatu jaman yang membentang di depan mereka dan bukannya terpasung dengan pengetahuan masa kini yang segera menjadi usang kelak.
Penanaman prinsip belajar untuk belajar mengharuskan perubahan mendasar pada sekolah. Sekolah harus mampu menghadirkan proses belajar yang menyenangkan, sehingga murid tidak lagi trauma dengan sekolah yang berujung pada trauma pada proses belajar. Sekolah bukan ajang kompetisi dimana yang juara akan jumawa dan yang kalah akan kecil hati. Sedari awal ditanamkan pengertian pada murid bahwa terlebih penting adalah membangun tradisi ilmiah dan bukannya logika lomba. Mereka tidak perlu mengalahkan siapa-siapa disini. Konsekuensinya tidak sistem rangking disini, tidak ada kasta kelas untuk anak pandai dan kelas untuk anak rata-rata.
Guru tidak lagi bercerita dan murid mendengarkan. Juga guru tidak lagi memegang kebenaran mutlak, ia bisa saja salah dan tidak malu mengakui kesalahannya. Hubungan guru-murid adalah hubungan dialogis : mereka mempelajari obyek ajar yang sama dan merumuskan bersama. Dengan demikian proses belajar mengajar menjadi proses untuk memahami sesuatu. Dalam proses ini tidak hanya murid yang bisa belajar dari guru tetapi guru pun bisa belajar dari muridnya. Guru dan murid bersama-sama mempersoalkan hal-hal yang menjadi problem riil di masyarakat.
Keberhasilan penanaman prinsip belajar untuk belajar ditandai dengan keluaran (baca : lulusan) yang senantiasa terus belajar dan terus mengembangkan dirinya secara mandiri, mampu melakukan transformasi sosial di masyarakatnya dan mampu mengatasi tantangan jamannya (###)

From : AnamXP@yahoo.com